Launching album Space Between Building diadakan di Bentara Budaya, 27 Febuari 2014. Selain lauching album, pada malam itu juga diadakan mini konser yang menampilkan karya-karyanya di album Space Between Building.
Album yang digarap di Jakarta dan Sydney bersama Dwiki Dharmawan selama satu tahun tersebut didukung para musisi, seperti Budy Haryono (drum), Adi Darmawan (bass), M Sa’atsyah (suling), Ade Rudiana (Kendang), Yance Manusama, Pra B Dharma, Otti Djalamus, Regga Dauna, Glen Dauna, dan lainnya. “Saya beruntung dan bangga sekali mendapat dukungan yang total dari para musisi senior dalam pembuatan album perdana saya ini, pada hal album ini bisa di bilang tidak menguntungkan dari segi komersial, karena jenis music yang kita mainkan diluar mainstream, ” sambut Yuri dalam jumpa pers launching albumnya.
Album Space Between Building memberikan kesegaran akan album gitaris solo di Indonesia yang tidak cukup banyak, juga ingin menampilkan beragam unsur tradisional dalam komposisi dengan interprestasi baru, seperti pada karya klasik dan populer Puspanjali, Rangkaian Melati, Es Lilin, dan Sabda Alam.
Sebagai gitaris yang 20 tahun tinggal di luar negeri, keadaan Indonesia saat ini khususnya kota Jakarta memberikan inspirasi bagi Yuri jo untuk membuat sebuah karya bagi masyarakat pencinta musik khususnya pencinta aliran jazz, karya ini dapat di simak pada “Street/Kayak” yang terispirasi dari kemacetan di Jakarta.
Aliran jazz sebenarnya bukan harga mati bagi Yuri, tapi karena Yuri sangat menyukai blues dan Black Amerika Root sejak belajar gitar, apalagi setelah mendengarkan Charlie Parker yang memainkan nada-nada gitar yang begitu bebas membuat Yuri ingin memperdalam Jazz. Selain itu, pada tahun 1992 Yuri berkesempatan menyaksikan Montreal Jazz Festival di Kanada dan berkesempatan utuk memperdalam pengetahuan music bersama Nick Romandini dari McGill University in Montreal Canada yang kemudian memperkenalkannya pada fundamentals of Jazz. Hal itu yang membuat Yuri menyukai Jazz. “Jazz memang menginspirasi saya sehingga saya mempelajari dan memainkannya, tapi saya juga melakukan hal yang sama pada warna music lainnya,” ujar Yuri.
Yuri Jo, lelaki kelahiran Jakarta 30 November 1974, mengenal gitar pada usia 11 tahun, “ itu karena awalnya ingin belajar drum, tapi gak di kasih oleh orangtuanya, mungkin karena berisik ya? Akhirnya saya beralih ke gitar,” kata Yuri pada Kabare. Ketertarikan akan gitar di mulai mendengarkan Jimmy Hendrik, melihat video konser Depp Purple yang di Californiita Jam, Ritchie Blackmore, dan melihat video Michael Jackson yang main bersama Edie Van Hallen. “Koq bisa mereka main gitarnya seperti itu?” cerita Yuri saat menceritakan awal ketertarikannya pada gitar. Bermula dari itu Yuri mulai belajar gitar dengan mendengar dan belajar karya – karya klasik bersama Pak Didiet di Rossi Music Jakarta yang dilanjutkan di Farabi Music School Jakarta.
Meski belajar gitar klasik, tapi pada masa remaja Yuri sering memainkan lagu-lagu rock. Bahkan membuat grup hardcore atau trash metal. “Saya kalau dirumah gak dengerin lagu metal, tapi lagu – lagu blues ala Robert Johnson, BB King hingga Eric Clapton, saya malah di anggap aneh ama teman – teman kalo mainin blues, ya itu saya lakuin agar bisa ngeband,” kata Yuri.
Karir akademis music Yuri dimulai sewaktu, Yuri mendapat tawaran untuk sekolah di Brisbane Australia, setamat SMA di Brisbane, tahun 1997 Yuri memperoleh gelar diploma music dari Central Queensland Conservatorium, Mackay Queensland Australia, 2000 memdapat gelar Bachelor of Music Queensland Conservatorium Griffith University, 2005 memperoleh gelar Graduate Diploma of Music University of Aukland New Zaeland dan di tahun 2006 Yuri mendapat gelar Master of Music dari Queensland Conservatorium, Griffith University Brisbane Australia.
Teks & Foto: BK
