Pagelaran “Kali” dimulai dengan hadirnya puluhan anak kecil yang meringkuk layaknya janin di dalam rahim. Tata cahaya yang dibuat sedemikian gelap, seperti menguatkan ketika awal mula kehidupan. Lalu, datanglah seorang perempuan berbalut pakaian merah yang tangannya memegang sebuah tempayan berukuran kecil. Ia menari berkeliling, lantas membuat gerakan menyiramkan air di atas penari-penari yang lain.
Lantas apakah yang ingin disampaikan pada pagelaran “Kali” tersebut? William Blake mengatakan ”Without Contraries There’s No Progression” bahwa “Tanpa Sikap Kontra Tak Akan Ada Kemajuan”. Slogan ini mewarnai di setiap sudut dari karya Kali, dan dijadikan sebagai kerangka kerja. Karya Kali merupakan hasil permenungan, penciptaan dan keinginan untuk bersikap kritis lewat seni. Dari bentuk fisik, kita bisa melihat perpaduan berbagai genre seni yang merupakan tawaran pembaruan lewat kisi karya kontemporer.
Sementara lewat berbagai gubahan yang terkandung di dalamnya, sang kreator berusaha memberi gambaran bebas dan lepas dari makna-makna filosofis pemikiran William Blake. Tafsiran tersebut bisa muncul belakangan, namun juga bisa digunakan sebagai dasar pemikiran, dan kita menafsir dan mendedahya dari berbagai disiplin seni.
Menurut seorang koreografer yang terlibat dalam pagelaran “Kali”, Agung Gunawan, Kali adalah tempat berkumpulnya berbagai aliran dengan perbedaan warna. Gerakannya tak terduga, tak terdefinisikan. Namun itulah hakikatnya. Kita tak akan mampu mengetahui ketenangannya lewat permukaan arusnya yang purba saja. Karena ia bisa beriak oleh tonggak-tonggak kreatif yang perlu direnungkan lebih jauh.
“Benang merahnya akhirnya bukan lagi merupakan satu warna, tetapi muncul dalam penafsiran warna-warna abang, putih, ireng yang mengalir dalam bentuk dominan segitiga sebagai pralambang gunung dan bukit tempat mengalirnya Kali. Ia pun bisa tenang karena kita membiarkannya untuk bebas mengalir tanpa pretensi apapun. Ya, semua gerakan itu bisa kita tafsirkan berbeda. Namun persatuannya terletak di antara kita yang berbeda ini. Kita sama-sama bisa melihatnya lewat bayang yang tercermin di permukaan air Kali itu,” kata Agung.
Seni, selain tentang kepekaan pada keindahan juga adalah kepedulian. Untuk menyampaikan keduanya, kita mungkin tidak bisa lagi terpaku pada wujud dan metode seni yang sudah baku dan membeku. Kita harus memberanikan diri mencoba cara-cara baru, mempertemukan hal-hal yang telanjur dianggap berseberangan. Percobaan dan usaha yang akan membawa kita tidak hanya kepada wujud dan pengalaman baru, tapi sekaligus menaikkan tingkat kepekaan kita akan hidup.
Walaupun durasi waktu Pagelaran “Kali” terbilang cukup lama, namun dalam mengemas sebuah pertunjukkan interdiciplinary art, merupakan hasil perpaduan kerja tim kreatif Bambang N Karim yang terdiri dari Agung Gunawan sebagai director of movement, Deasylina Da Ary sebagai principal dancer dan Johan Aditama sebagai director of music bisa dikatakan berhasil memuaskan penonton.
Sebanyak 75 orang anak yang terdiri dari para penari dan musisi dari Sanggar Pradapa Loka Bakti Pacitan, mempersembahkan 12 repertoar “Kali”. Jalinan cerita yang terpisah dirangkai dalam satu untaian gerak dan visual yang sarat makna. Para pengunjung diajak untuk merenungkan nilai-nilai kehidupan dan pengunjung dibebaskan untuk menafsirkan maknanya.
Pagelaran “Kali” sendiri adalah kolaborasi seni antara Indonesia dan Australia menjadi awal hubungan yang indah bagi dua negara khususnya di bidang pengembangan seni kontemporer. Dihadiri Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu dan Board Member of Australia Indonesia Institute Andrew Donovan, pergelaran ini telah menjadi suatu suguhan istimewa bagi masyarakat Cangkringan, dan sekitarnya.
Teks: Wahyu Indro S.
