Upacara khitanan yang dilaksanakan dalam tradisi Keraton Yogyakarta ini mengandung banyak filosofi dan keunikan yang patut untuk dipelajari dan dilestarikan. Supitan atau Khitan dalam tradisi keraton adalah kewajiban bagi seorang putra kerajaan dan bagi umat muslim hal ini juga merupakan kewajiban. Perintah ini terkandung dalam Hadist Riwayat Abu Hurairah, bahwa hitan juga sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW.
Dalam upacara Supitan ini terdiri dari lima upacara yang harus dilaksanakan oleh sang putra dan keluarga pemangku hajat. Rangkaian upacara tersebut diantaranya adalah Majang, Tarub, Siraman, Ngabekten dan Gress. Ketika menggelar upacara ini, diperlukan beberapa peralatan pendukung diantaranya krobongan (ruang berbentuk segi empat ditutup dengan kain sutra putih yang didalamnya ada sebuah kursi dan sajen-sajen), kepala dengan songkok atau disebut puthutan, baju bludiran tanpa lengan, buro, gelang kono, karset rantai bros, elebut, kalung sungsun, ode kollonye, saputangan, unjuan, cengkal perak, dan kain prada (biasanya motif yang dipakai adalah Nyamping Parang Kusumo).
Upacara-upacara yang termasuk dalam rangkaian upacara supitan ini memiliki arti dan tujuan yang sakral, yaitu diantaranya Majang berasal dari bahasa jawa artinya yaitu menghias. Majang asal kata dari pajang, kemudian kata tersebut mendapat akhiran “-an” dan menjadi pajangan. Alat-alat yang diperlukan untuk majang antara lain, bleketepe, yaitu daun kelapa muda yang dianyam, walaupun tidak semua atap dipasangi bleketepe artinya “wes tumplek blek ukete” (erat dan rukun). Maksudnya keluarga yang rukun saling membantu dan selalu berhubungan erat.
Tarub adalah memasang tambahan “eyub-eyub”(tempat berteduh). Selanjutnya tarub ini dihiasi janur kuning. Janur kuning yang digunakan sebagai hiasan tarub tidak boleh digantung tapi harus disobek kecil-kecil atau dihilangkan lidinya. Tarub ini dihiasi dengan tuwuhan (tumbuh-tumbuhan) yang juga dilengkapi dengan seperangkat makanan. Bermacam-macam tumbuhan itu mengandung arti kemakmuran tanaman atau harapan kemakmuran bagi si anak di kemudian hari.
Kemudian anak tersebut mengikuti upacara siraman air kembang dengan harapan anak tersebut bersih dari segala noda baik lahir dan batin. Dengan didampingi oleh para bandara putri termasuk ibu dari putri raja, saudara perempuan, dan putri-putri kerabat Keraton yang dipimpin oleh bendara putri yang lebih muda sampai seterusnya. Siraman dilakukan dalam satu hari sebelum upacara gres. Usai siraman, dilakukan upacara ngakbeten yaitu sungkem atau menghaturkan sembah kepada orangtua. Hal ini melambangkan pernyataan terima kasih kepada orangtua atas segala asuhan dan bimbingannya sampai saat ia dikhitan bahkan ia telah dewasa, serta mohon doa restu agar sukses dan bahagia.
Sebagai puncak dari seluruh rangkaian acara, digelar upacara Gres yakni saat pemotongan kulit kepala kemaluan laki-laki si anak yang menyelimutinya. Upacara ini berlangsung pada pagi hari, sebelumnya anak yang akan dikhitan disuruh berendam dalamair beberapa lama, agar waktu gres darah tidak banyak mengalir. Dalam upacara ini, putra Sultan yang akan dikhitan didampingi oleh penganthi. Seorang pangeran yang bertugas mendampingi putra Sultan mulai dari hendak menuju pekobongan hingga kembali ke Kasatriyan lagi. Adapun sang pemangku merupakan seseorang pangeran yang diberi tugas memangku putra raja pada saat disunat.
Jika pelaksanaan khitanan sudah selesai semuanya, maka kembalilah Sultan ke Bangsal Kencono diiringi para Pangeran, kemudian seorang nerpa cundaka diutus pergi ke Bangsal Manis, tempat menyiapkan hidangan. Setelah itu, maka putra Sultan yang habis dikhitan tadi diperintahkan kembali ke Kesatriyan dengan diantar oleh para pengampil untuk beristirahat. Para putra Sultan bersama para Pangeran Pemangku (Penganthi) berjalan menuju Kesatriyan diiringi ampilan seperti semula ketika menghadap. Kemudian Sultan memerintahkan bubar pasowanan itu, raja sendiri masuk ke dalam puri dan yang lain pulang kembali ke rumah masing-masing.
Teks & Foto: Herlan
