201 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1812, Pangeran Notokusumo diangkat dan dinobatkan oleh Gubernur-Jenderal Sir Thomas Raffles sebagai Pangeran Merdiko, yakni pangeran yang memperoleh status kemerdekaan dari kekuasaan Kraton Kasultanan Ngayogyakarta. Sejak saat itu, salah satu putra Sri Sultan Hamengku Buwono I ini mulai menyandang gelar sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Paku Alam I, sekaligus menandai berdirinya Kadipaten Pakualaman Ngayogyakarta.
Peringatan 201 tahun berdirinya salah satu dari empat pewaris Kerajaan Mataram ini diperingati dengan berbagai kegiatan bernuansa budaya yang telah terselenggara sejak bulan Mei 2013 lalu dan akan berlangsung hingga bulan Agustus 2013 mendatang. Menurut dr. H. KPH. Kusumoparastho, Ketua Panitia Peringatan 201 Tahun Hadeging Praja Kadipaten Pakualaman, momentum tahun ini secara khusus dimanfaatkan untuk menggugah kembali gairah kegiatan budaya di lingkungan Kadipaten Pakualaman. “Selain ditandai dengan peringatan jumenengan, berbagai kegiatan digelar untuk menghidupkan kembali kekayaan budaya Pakualaman yang bersifat terbuka dan dapat dinikmati oleh masyarakat umum,” tuturnya.
Sebagai wujud rasa syukur ke hadrat Illahi, Kadipaten Pakualaman Ngayogyakarta mengambil bagian sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan Majelis Mujahadah Akbar dan Sema’an Al-Qur’an yang secara rutin digelar setiap Ahad Legi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara yang berlangsung pada tanggal 15-16 Juni 2013 di Kagungan Dalem Bangsal Sewotomo ini, dihadiri oleh ribuan jama’ah dari pelosok Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.
Sepekan kemudian, pada tanggal 22 Juni 2013, peringatan 201 tahun jumenengan KGPA Paku Alam I digelar dalam sebuah resepsi di Kagungan Dalem bangsal Sewotomo. Sejumlah kerabat serta tamu kehormatan hadir dalam acara ini, termasuk diantaranya Menteri Pemuda dan olah Raga (Menpora) RI, KRMT. Roy Suryo, yang kebetulan juga merupakan salah satu kerabat Kadipaten Pakualaman. Menpora juga menyempatkan hadir dalam Lomba Jemparingan Gaya Mataraman yang diselenggarakan di Lapangan Kestalan, Pura Pakualaman, keesokan harinya. Dalam lomba panahan tradisional yang telah terselenggara rutin setiap hari Sabtu Pahing untuk memperingati Tingalan Dalem KGPAA Paku Alam X ini, Menpora juga menyatakan perhatiannya untuk turut melestarikan olahraga tradisional ini. “Dalam peringatan Hari Olahraga Nasional yang dipusatkan di Jogja September 2013 nanti, jemparingan akan diperkenalkan ke tingkat nasional bersama beberap olahraga tradisional lainya,” ungkapnya.
Selain itu, Peringatan Hadeging Praja Kadipaten Pakualaman juga dimeriahkan dengan beragam kegiatan bernuansa budaya yang telah digelar sejak akhir bulan Mei 2013, seperti lomba macapat, lomba tari klasik gaya Yogyakarta, lomba berbusana Mataraman gaya Yogyakarta, lomba lukis pelajar, pentas seni tradisional, dan akan diakhiri dengan penyelenggaraan Lomba Pacuan Kuda yang akan berlangsung pada tanggal 24-25 Agustus 2013 mendatang.
Meski bukan menjadi akhir dari rangkaian acara, prosesi kirab budaya mengelilingi kompleks Kadipaten Pakualaman tampaknya menjadi agenda yang menarik perhatian masyarakat luas setiap tahunnya. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 30 Juni 2013 ini menampilkan defile pasukan Paskribaka DIY, sepasang gajah dari Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka, barisan Srunggomo atau abdi dalem kaji, Manggoloyudo, serta pasukan khas Puro Pakualaman Lombok Abang dan Plangkir. Tampil pula kereta dan pasukan berkuda dari Kadipaten Pakualaman, serta sejumlah komunitas prajurit tradisional seperti Bregada Manggolo, Bregada Surengpati, Bregada Gunungsaren, Bregada Bada Kupat Pandeyan, dan Bregada Dipowinatan.
Teks: Agus Yuniarso, Foto: Albert, Budi Adi
