Deso mowo coro, negoro mowo toto. Setiap suku, budaya, dan bangsa memiliki nilai kearifan atau local wisdom masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Tata nilai tersebut merupakan hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya yang spesifik selama berabad-abad. Dengan itu, patut bila kita menghormati dan hargai nilai-nilai kearifan masing-masing suku bangsa dan budaya. Tak hanya itu, wajib pula bagi kita nguri-uri nilai-nilai tersebut.
Di Jawa, ruwatan merupakan satu bentuk kegiatan tradisi-budaya yang terbentuk dari nilai-nilai hidup yang dipahami secara kolektif oleh masyarakatnya. Satu ritual upacara tradisional yang telah lama menjadi tradisi orang Jawa. Ruwatan dilakukan, utamanya untuk menghindari atau membebaskan orang dari kesialan hidup dan nasib jelek, serta sebaliknya yaitu untuk memperoleh keselamatan, mencapai kehidupan yang ayom, ayem, tentrem (aman, bahagia, damai di hati). Pendeknya, upacara ruwatan merupakan sarana dan upaya orang Jawa untuk membersihkan diri dari sengkala dan sukerta (dosa dan sial).
Sebagai sebuah tradisi-budaya, ruwatan tetap lestari di zaman ini. Banyak kalangan atau orang Jawa yang masih memperhatikannya sebagai satu warisan budaya yang adiluhung. Salah satunya adalah Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Sebagai salah satu hotel di Yogyakarta yang memiliki visi melestarikan dan merevitalisasi budaya dan tradisi di Yogyakarta, Royal Ambarrukmo mengangkat tradisi ruwatan sebagai salah satu kegiatan budaya di hotel.
Melalui paket yang ditawarkannya dengan harga terjangkau, Ruwatan massal di Royal Ambarrukmo dapat dilakukan bersama-sama dalam satu waktu. Ada paket dengan akomodasi dan tanpa akomodasi. Paket tersebut untuk menyediakan segala fasilitas ruwatan serta prosesinya, seperti sesaji lengkap, pakaian ruwatan, pergelaran wayang kulit, shuttle bus ke Pantai Depok untuk melarung sesaji.
“Ini adalah pertama kali, kami menawarkan paket ruwatan lengkap dengan segala tata caranya bagi siapapun masyarakat yang ingin meruwat dirinya. Paket ruwatan ini tentunya dilakukan oleh ahlinya sehingga akan berjalan sesuai dengan tradisi yang ada,” kata Wiwied A Widyastuti, public relations manajer Royal Ambarrukmo Yogyakarta.
Diadakannya paket ruwatan massal ini untuk melestarikan tradisi dan budaya tradisional, sesuai dengan keinginan hotel bintang lima ini untuk menjadi hotel pionir dalam hal melestarikan tradisi leluhur. Seperti pada tanggal 22 Juni lalu, ruwatan massal di Royal Ambarrukmo pertamakalinya dilaksanakan.
Prosesi ruwatan di Kedaton Royal Heritage dipimpin oleh Dalang Kanda Buwana yang diperankan oleh Ki Cermo Hadi Suyata. Sang dalang meruwat puluhan orang yang dianggap sukerto. Ruwatan akan menjadi sangat berarti, ketika upacara ini dimaknai sebagai ujud kesadaran bahwa dirinya adalah manusia sukerto, lemah tak berdaya, penuh dosa, dan memasrahkan diri kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta.
Pergelaran wayang kulit sebagai salah satu syarat pun dimainkan sang Dalang. Menurut Wiwied, wayang kulit yang digelar harus lengkap perlengkapannya, seperti gamelan, wayang kulit komplit satu kotak, kelir dan blencong (lampu minyak). Sesaji, seperti tuwuhan, batu arang, kipas beserta kemenyan, kain mori putih sepanjang lebih kurang 3 meter dan gawangan kelir, juga harus disediakan.
Selain itu, masih ada juga rangkaian sesaji seperti bermacam nasi, seperti nasi golong, nasi wuduk, dan nasi kuning, serta aneka bubur yang berbeda-beda warna yang diwadahkan dalam sebuah tampah. Sesaji ini diletakkan di belakang layar tepat di depan sang dalang selama memainkan wayang. Setelah prosesi ruwatan selesai komplit, bermacam sesaji tersebut kemudian dilarung di Pantai Depok, Bantul, sebagai simbol membuang dosa dan sial.
