468x60bannerad

Wednesday, July 10, 2013

Sewindu Jogja Fashion Week 2013



Dunia fesyen sepertinya mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Tren fesyen yang selalu berputar dibarengi dengan inovasi dan kreasi dari para perancang busana membuat produk-produk fesyen tidak pernah membosankan. Event-event fesyen seperti karnaval dan peragaan busana juga semakin kerap digelar di beberapa daerah, salah satunya Jogja Fashion Week 2013 (JFW).

Pagelaran busana yang digelar tiap tahun ini tak terasa sudah memasuki tahun ke-8 penyelenggarannya. JFW tahun ini diselenggarkaan mulai 3–7 Juli 2013 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. Pada Rabu, 3 Juli 2013 lalu, JFW resmi dibuka oleh Sri Paduka Paku Alam IX. Dengan mengambil tema “Simfoni Khatulistiwa”, JFW diharapkan mampu mengangkat kekayaan alam Indonesia, keragaman budaya nusantara sebagai penyanggga kerekatan serta perekat dalam persatuan bangsa yang disuarakan sebagai pijakan dasar membangun citra bangsa yang besar dan kuat. “Simfoni Khatulistiwa sesuai dengan kondisi Indonesia yang beragam. Sangat disayangkan bila tidak dilestarikan,” ucap Sri Paduka Paku Alam IX dalam sambutannya. Acara pembukaan juga diramaikan oleh persembahan tarian yang apik dari Bala Mahardika bertajuk “Zamrud Khatulistiwa” kemudian disusul oleh peragaan busana dengan tema “Mahakarya Batik Bantul”.

JFW kali ini menggelar beberapa kegiatan seperti pameran, peragaan busana, dan karnaval di jalan (fashion on the street). Sebanyak 150 perancang busana dari seluruh Indonesia turut serta memamerkan hasil karyanya. Bahkan brand ternama seperti Sophie Paris turut serta dalam pekan mode ini. Dalam sesi peragaan busana Sophie Paris memamerkan koleksi terbaru spesial Lebaran dengan model Teuku Zacky bersama sang istri Ilmira Usmanova dan keluarganya. Dalam kesempatan ini, Sophie Paris juga mengadakan program Fashion & Beauty yaitu panduan berbusana sesuai tipe tubuh dan juga panduan make up yang dikemas dalam bentuk talkshow.

Berita duka juga datang dari JFW tahun ini, desainer kondhang Tomy Tri Wahyudi tutup usia sebelum menyaksikan karyanya dipamerkan di catwalk JFW. Karya terakhir Tomy bertajuk “Samudera” terinspirasi dari kekayaan dan keindahan alam bawah laut Indonesia. Dituangkan dalam nuansa batik modern klasik Jogja dengan motif laut seperti kerang, ikan, koral, ubur-ubur, dan keindahan sosok putrid legenda.

Kemeriahan JFW tahun ini semakin lengkap dengan diadakannya Karnaval Jogja Fashion Week di sepanjang jalan Malioboro pada Minggu, 7 Juli 2013 lalu. Karnaval dengan titik start dari Kantor Dinas Pariwisata DIY hingga Benteng Vredeburg ini, mampu menarik perhatian dan antusiasme pengunjung di seputaran Malioboro. Sebanyak 25 grup dari berbagai komunitas dan sanggar seni turut serta dalam karnaval dengan dandanan dan busana yang unik. Seluruh peserta karnaval diwajibkan menggunakan bahan lokal dan alami dari Indonesia. Selain itu banyak peserta karnaval yang menampilkan tema busana sesuai dengan cerita legenda dari tanah air.
Diharapkan dengan adanya JFW ini menjadikan Jogja sebagai pintu gerbang fesyen Indonesia. JFW juga membawa misi sebagai pekan mode yang merepresentasikan tren etnik sekaligus sebagai ikon budaya nasional guna meningkatkan rasa cinta dan bangga terhadap produk bangsa.

Teks: Veronika Sekar
Copyright © Restorium - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.