468x60bannerad

Saturday, August 31, 2013

Kopi Merapi dan Kedai Kopi Silaturahmi Media

Sudah tahukah Anda dengan kopi Merapi? Yogyakarta kini telah mempunyai produk kopi unggulan dan bercita rasa tinggi. Kopi istimewa dari Jogja ini sering disebut dengan nama kopi organik Merapi. Sesuai nama, kopi ini ditanam secara organik dan dibudidayakan di lereng Gunung Merapi pada ketinggian 200-700 mdpl. Kopi Merapi diproduksi oleh Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur di Petung, lereng Merapi.

Kini, kopi Merapi berusaha memperluas jaringan pasar dan memperkenalkan kopi khas Jogja ini kepada masyarakat Indonesia. Hari kedua di awal Agustus lalu, pihak usaha Kopi Merapi dan Kedai Kopi (sebuah café kopi di Yogyakarta), mengadakan silaturahmi dengan media. Silaturahmi ini dimaksudkan juga untuk sekaligus memperkenalkan Kopi Merapi serta memberitakan adanya kerjasama antara Kopi Merapi dan Kedai Kopi.

“Kerjasama ini tak lain adalah upaya untuk mengangkat Kopi Merapi, kopinya Jogja, agar lebih luas dapat segera dirasakan oleh masyarakat. Dan dengan ini, Kopi Merapi sudah dapat Anda rasakan di Kedai Kopi dan menjadi ikon baru Kedai Kopi yang menggunakan kopi khas Jogja,” ujar Denny Neilment, SE, direktur utama Kedai Kopi.

Teks: FA Herru

Friday, August 30, 2013

Birds of Paradise, 39 Mahkota Hayati Indonesia

Indonesia negeri teramat kaya. Kekayaannya juga mencakup adanya keanekaragaman hayati. Yaitu keanekaragaman makhluk hidup dari semua sumber, termasuk di antaranya daratan, lautan atau akuatik lainnya, yang mencakup keanekaragaman spesies. Misalnya kelompok burung.

Terdapat ribuan spesies burung di Indonesia. Dan, Birds of Paradise adalah burung yang paling luar biasa di dunia. Kelompok burung istimewa ini mencakup 39 spesies dan hanya bisa ditemukan di Indonesia, juga Papua Nugini dan Australia. Bagi Indonesia, Birds of Paradise bahkan dinilai sebagai mahkota keanekaragaman hayati negeri ini.

Kelompok burung ini tak jarang mendapat perhatian khusus dari para peneliti-peneliti dan ilmuwan dunia. Seperti pada Rabu, 22 Agustus lalu, seorang ahli biologi dari Universitas Harvard yang juga fotografer National Geographic, Dr. Tim Laman menyampaikan prensentasinya yang bertemakan “Birds of Paradise” di @america Pasific Place, Jakarta. Dalam diskusi yang terbuka untuk umum, di depan para peserta, ia bercerita tentang penelitiannya terhadap kelompok burung ini.

Bersama rekannya, Dr. Ed Scholes, selama delapan tahun ia bekerja untuk mendokumentasikan 39 spesies burung ini. Menurutnya, ia pun tentu mempelajari juga macam-macam hal mengenai Birds of Paradise ini di hutan-hutan terpencil di Indonesia.

Teks: FA Herru; Foto: Ist.

Thursday, August 29, 2013

Purnama Hamengku Boko, Dari Boko Merajut Nusantara

Inilah saat pertama kali “Purnama Hamengku Boko” dilatarkan. Sambung menyambung rupa-rupa seni dan budaya dilakonkan di pelataran Candi Ratu Boko di bawah terang sinar bulan purnama. Purnama Hamengku Boko, merupakan perhelatan seni budaya yang tak lain ditujukan untuk merajut Nusantara melalui seni dan budaya yang ada.

Memang tak bisa diremehkan, sekarang ini budaya-budaya lokal di Nusantara masih kalah populer ketimbang budaya global. Seni-budaya lokal secara substansial malahan seperti makin lemah atau tidak mengalami kemajuan yang berarti. Karena itu, yang dibutuhkan adalah membuncahnya kesadaran setiap individu masyarakat untuk mengingat dan menggali lagi warisan seni-budaya bangsa. Sebab sejatinya kita mengerti, bahwasannya warisan seni dan budaya merupakan energi, pusaka bangsa, bagian dari peradaban besar Nusantara.

Di tanah Yogyakarta, dahulu kala berdiri Kraton Ratu Boko yang kini tak lebih dari sebutan candi. Kraton Ratu Boko konon merupakan pusat peradaban, pusat spiritual religi, pusat ilmu teknologi, juga pusat kearifan-kearifan luhur masyarakat lampau. Pun demikian keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang kita kenal sebagai sumber kearifan budaya Jawa, yang pada akhirnya menjadikan Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya, salah satu kawasan besar pusaka budaya Indonesia.

Berlatar belakang juga pada adanya dua kraton tersebut, gelaran seni-budaya Purnama Hamengku Boko kemudian dikreasikan. Secara harfiah diartikan sebagai cahaya bulan yang menyangga Boko. Secara filosofi, Hamengku mewakili Keraton Yogyakarta. Boko ditujukan untuk situs Kraton Ratu Boko. Sedangakan Purnama mewakili cahaya yang memancar dari kesatuan dua keraton tersebut.

“Dan esensi dari kegiatan ini sebenarnya adalah sebuah usaha memunculkan kembali atau mengembalikan kejayaan-kejayaan yang ada di tanah ini. Dasarnya, adalah harapan untuk kembali kepada kearifan lokal. Kita sadar secara kolektif bahwa kita punya sejarah dan budaya yang luar biasa. Dan dengan ini, kita ingin pula mengajak atau memunculkan kesadaran kolektif masyarakat, terutama kalangan teman-teman muda bahwa kita perlu menggalinya lagi,” ungkap Detik Wicaksono, koordinator umum pergelaran seni-budaya ini.

Sabda pancering nagari pun jadi satu tagline, ungkapan yang adalah tujuan besar diadakannya helatan ini. Yaitu masa kejayaan sebuah peradaban yang dulu pernah ada di negeri Nusantara. Satu ungkapan yang pada dasarnya sama dengan yang pernah diucapkan Bung Karno mengenai mercu suar dunia. Memang, Nusantara pernah menjadi pemimpin peradaban. Itu terbukti dari adanya kejayaan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya atau Majapahit. Setelah Nusantara tegak berdiri menjadi Indonesia pun, pastinya tetap diharapkan demikian.

Inilah mengapa, Purnama Hamengku Boko kemudian dipersembahkan lalu oleh Laksita Mardawa dan Tim Saptagama. Laksita Mardawa adalah komunitas pemerhati seni dan budaya yang berkonsentrasi dalam upaya pelestaraian. Sedangkan Saptagama, yang berarti penjaga dan pelestari budaya, adalah tim khusus yang dibentuk untuk menyelenggarakan helatan ini.

Melalui kesenian-kesenian dan budaya yang ada, Purnama Hamengku Boko ingin merajut Nusantara. Di helatan pertama pada 22 Agustus lalu ini, beberapa bentuk kesenian ditampilkan melalui serangkaian acara. Rangkaian pertama adalah Boko Photo Race, yaitu ajang sumbang foto dari para seniman fotografi untuk memberikan karya terbaik dalam membidik situs Candi Ratu Boko. Sebelumnya pun diadakan coaching clinic fotografi.

Kemudian yang kedua, Beksan Nuswantoro. Adalah puncak acara yang menyuguhkan tari-tarian Nusantara yang kali pertama ini ditampilkan Tari Srimpi Pandhelori. Tarian yang diciptakan dan dikembangkan oleh Sultan Hamengkubuwono VI dan VII ini membawakan cerita petikan dari “Menak”, sebuah perang tanding Dewi Sirtu Pelaeli dan Dewi Sudarawerti yang membawa pistol dan cundrik dalam berperang. Ditampilkan pula tari Golek Ayun-Ayun yang berasal dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Tari ini menggambarkan gadis-gadis remaja yang sedang bersolek. Biasanya, tarian ini ditampilkan dalam upacara penyambutan tamu kehormatan kraton dan upacara pernikahan.

Selain itu, kegiatan ini juga menyuguhkan kesenian gejruk lesung yang menampilkan permaian tradisional yang pada zaman dulu populer dimainkan anak-anak. Seperti jamuran, dingklik oglak-aglik, jungklak-jungklik yang menggunkan alat dari bambu, cublak-cublak suweng, gotri legendri, sluku-sluku batok, juga suk-suk pari ambruk.

Tak kalah menarik, adalah penampilan grup seni beladiri tradisional pencak silat. Sembilan jurus dimainkan dengan apik oleh para senimannya. Lantas sebagai puncak acara, dusuguhkanlah Laksita Teja Kirana atau pesta cahaya. Kali ini, pesta cahaya dilakukan dengan menerbangkan ratusan lampion yang menjadi simbol harapan akan tercapainya maksud dan tujuan diadakannya pergelaran seni-budaya ini.

Tari-tarian tradisional, permainan anak-anak tradisional, serta pesta cahaya ini dimainkan di pelataran situs Candi Ratu Boko yang bertepatan dengan kemunculan bulan purnama. Bukan tanpa sengaja ini dilakukan; Purnama Hamengku Boko, yang akan diagendakan sebualan sekali, selalu akan diadakan di saat kemunculan bulan purnama. Cahaya terang purnama yang menyinari bumi Boko, dijadikan simbol untuk mengembalikan sabda pancering nagari. Menurut Detik Wicaksono, ke depan Purnama Hamengku Boko akan juga menampilkan beragam kesenian dan budaya tradisional dari seluruh Nusantara. Tari-tarian tradisional, pun diagendakan menjadi isian tetap helatan ini, sebagai simbol tujuan merajut Nusantara.

Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast

Sunday, August 25, 2013

Pesta Budaya Kemerdekaan

Dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI, Istana Negara dan Istana Merdeka selalu di ramaikan dengan hiasan merah putih dan kemeriahan upacara penaikan dan penurunan Bendera Merah Putih. Itulah yang selalu kita lihat di media cetak dan televisi, tetapi selain hal tersebut, ada banyak pementasan budaya yang diselenggarakan oleh pihak Istana untuk turut serta menyambut peringatan Hari Kemerdekaan RI. Seperti yang terlihat dalam Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 pada 17 Agustus 2013.

Istana Negara dan Istana Merdeka diramaikan dengan penampilan-penampilan kesenian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia. Dalam pementasan seni budaya tersebut ditampilkan dalam 3 sesi acara, mulai dari pembukaan di pagi hari, sore hari dan malam hari pada acara jamuan makan malam para tamu Negara. Pementasan ini merupakan apresiasi Pemerintah dan Para pelaku seni dan budaya di Indonesia untuk turut merayakan Hari Kemerdekaan RI sekaligus mempromosikan dan mengenalkan kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia kepada para tamu Negara serta melestarikan seni dan budaya bangsa ini.

Pementasan-pementasan seni yang ditampilkan diantaranya adalah Pada sesi pagi hari, ilustrasi musik dari daerah Kalimantan oleh Group seni Maha Kambulu dengan tema alunan musik Datun Julud,Seni Budaya khas Betawi Gambang Kromong dengan iringan alat musik Tehyan yang dimainkan oleh 17 pemain dan ini adalah penampilan yang sangat berbeda dari biasanya karena Alat musik Tehyan biasanya hanya dimainkan oleh satu orang saja,Pada penampilan kali ini dimainkaan oleh 17 orang. Semuanya ini merupakan kreasi yang diciptakan oleh Artina Production.

Pada Sore Hari sebelum prosesi upacara penurunan bendera dilaksanakan ditampilkan berbagai kesenian diantaranya Seni musik Kolintang yang dimainkan oleh Ibu-ibu kelompok seni Pinkan yang berasal dari Ibu-ibu PKK Kementerian Pertahanan yang mempersembahkan lagu-lagu perjuangan,penampilan ini juga di iringi dengan para penari dari Artina Production pimpinan Ibu Hariati Abelam,Tari Batik dari daerah Pekalongan dan Marching band Surosowan dari daerah Banten dan Marching band dari Pupuk Kaltim.

Pada acara jamuan makan malam para tamu undangan beserta Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono beserta Ibu Herawati Boediono di hibur oleh music pengiring dari Poerwacaraka Orchestra dan para penyanyi Indonesia diantaranya Vidi Aldiano, Maudy Ayunda, Cakra Khan dan Lea Simanjuntak serta penampilan tarian daerah dari Artina Production yang berjudul Tari Mitreka Bawana khas daerah Sulawesi Tenggara.

Teks & Foto: Herlan

Tuesday, August 20, 2013

Hyatt Regency Yogyakarta Rayakan HUT Ke-68 RI

Perayaan HUT ke-68 RI di Hyatt Regency Yogyakarta berlangsung khidmat dan meriah. Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 2013 dilaksanakan upacara bendera dengan mengambil lokasi di Merapi Garden Area. Bertindak selaku inspekstur upacara adalah Nur Cahyadi, general manager Hyatt Regency Yogyakarta. Peserta dan petugas upacara meliputi jajajan staf dan manajemen.

Selesai upacara, diadakan beberapa permainan tradisional, seperti makan kerupuk, gobak sodor, memancing ikan, dan panjat pinang dengan berbagai hadiah menarik bagi yang beruntung. Uniknya, beberapa tamu asing yang menginap di Hyatt ikut serta berpartisipasi dalam permainan tradisional ini.

Tak kalah menariknya, dalam perayaan HUT ke-68 RI, Hyatt Regency Yogyakarta menyediakan nasi tumpeng dan ketan merah putih serta jajan. Ayu Cornelia, marcom manager Hyatt Regency Yogyakarta mengatakan, dengan tema You’re More Than Welcome, para tamu diajak turut serta merasakan kemeriahan ini.

Teks: Anis RN; Foto: Ist.

Monday, August 19, 2013

KAMPAYO Gelar Syawalan

Bersamaan dengan pameran lukisan Hendra Buana, Keluarga Musisi Penyanyi Artis Panggung Yogyakarta (Kampayo) menggelar acara syawalan di XT Square, Kamis, 15 Agustus 2013 lalu. Acara ini dihadiri rekan-rekan Kampayo dan beberapa tamu istimewa, seperti Wakapolda DIY Kombes Pol Ahmad Dofiri, penyanyi Trie Utami, pelukis Nasirun, pematung Dunadi, Direktur XT Square Widi Hasto dan para pelaku dunia hiburan Yogyakarta. Kawasan XT Square dipilih karena Kampayo bekerja sama dengan manajemen XT Square, membuka area kuliner dan panggung hiburan terbuka. Kampayo mengoordinasi tampilan entertainment setiap malam dengan berbagai jenis hiburan menarik, hingga usaha kuliner UKM yang menyajikan makan minuman khas Jogja.

“Syawalan ini bertepatan dengan waktu satu bulan Kampayo XT Stage berada di XT Square. Kami menjanjikan tempat ini sangat pas, menartik, unik dan nyaman bagi para wisatawan yang berkunjung ke Jogja untuk menikmati kuliner, belanja kerajinan dan hiburan yang terpadu pada satu tempat,” papar KRMT Indro Kimpling Suseno, selaku Ketua Kampayo.

Teks: Della

Perayaan HUT RI ke-68 di Hotel Phoenix Yogyakarta

Dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan ke-68 RI, The Phoenix Hotel Yogyakarta, turut menggelar upacara bendera yang dilaksanakan di halaman belakang hotel, tepat pada hari Sabtu, 17 Agustus 2013 lalu. Upacara yang di pimpin oleh Bapak Yosep Risdiyantoro selaku Financial Controller , sebagai perwakilan dari managemen, berlangsung cukup khidmat serta berjalan dengan lancar.

Seluruh karyawan The Phoenix Hotel Yogyakarta diwajibkan untuk mengikuti upacara bendera tersebut, karena selain upacara bendera juga diadakan syukuran dengan memotong tumpeng sebagai simbol kemerdekaan Republik Indonesia dan sekaligus pembukaan kembali ruang meeting Merdeka, setelah dilakukan sedikit perawatan untuk tetap menjaga nilai sejarah ruangan tersebut.

Ruang Merdeka merupakan salah satu ruangan bersejarah di The Phoenix Hotel Yogyakarta, dikarenakan ruangan tersebut merupakan tempat favorit Presiden pertama Republik Indonesia Bp. Ir. Soekarno, untuk melakukan segala aktifitas kerjanya selama di Yogyakarta. Acara perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ini ditutup dengan acara fun games yang berlangsung di ruang Pandawa.

GBPH Prabukusumo Nikahkan Putri Bungsu

Dibalut nuansa tradisi dan adat Jawa yang kental, prosesi pernikahan putri bungsu Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) H Prabukusumo, SPsi, berlangsung khusyuk. Pada Jumat, 16 Agustus lalu, GBPH H Prabukusumo menikahkan putrinya, RAj Hira Juwita Prabu Putri, ST, dengan Ipda Pol Amantha Wijaya Kusuma, putra kedua Irjen Pol Drs H Wisjnu Amat Sastro, SH. Prosesi pernikahan adat Jawa pada pagi itu diawali dengan ijab kabul atau akad nikah.

Disaksikan keluarga besar Keraton Yogyakarta serta para tamu undangan, akad nikah dilaksanakan dengan hikmat dan tak berkurang kesakralannya di kediaman GBPH Prabukusumo, di kawasan Alun-alun Selatan Yogyakarta. Keluarga Keraton Yogyakarta yang tampak hadir saat itu, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X, KGPH Hadiwinoto, GBPH Joyokusumo, GBPH Yudoningrat, GBPH Suryodiningrat, GBRAy Murdokusumo, GKR Condrokirono, KPH Purbodiningrat, BRAy Suryodilogo (Pura Pakualaman), dan lain-lain.

Selain keluarga besar keraton, para pejabat dan tamu undangan yang turut hadir menyaksikan prosesi pernikahan tersebut, seperti mantan Kapolda Metro Jaya Komjen Pol (Purn) Nugroho Djayusman, Kapolda Yogyakarta Hakka Astana, mantan walikota Yogyakarta Hery Zudianto, juga Walikota Yogyakarta Hariyadi Suyuti.

Kemudian, seperti seharusnya tata cara adat pengantin Jawa, rangkaian pernikahan dilanjutkan dengan upacara panggih atau bertemunya pengantin putri dan pengantin putra. Iringan gending Jawa yang dimainkan secara langsung oleh para pengrawit, melatarbelakangi prosesi adat pengantin tersebut.

Dalam upacara panggih, ada beberapa tahapan yang musti dilakukan. Seperti tukar menukar kembar mayang yang bermakna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan. Lalu, balangan gantal atau lempar melempar buntalan sirih dengan harapan semua godaan yang menghalangi akan hilang setelah terkena lemparan. Kemudian juga ada tahapan midak endog, di mana pengantin pria menginjak telur ayam dan kemudian kakinya dicuci oleh pengantin wanita.

Begitulah secuil prosesi dari seluruh rangkaian upacara adat Jawa yang tampak dalam pernikahan pasangan pengantin ini. Semuanya sudah barang tentu memiliki makna dan simbol kehidupan yang agung.

Setelah beberapa tahapan selesai dilakukan, kedua pengantin yaitu RAj Hira Juwita Prabu Putri (putri sulung GBPH H Prabukusumo dan BRAy Hj Roswarini Prabukusumo) dan Ipda Pol Amantha Wijaya Kusuma (putra kedua Irjen Pol Drs H Wisjnu Amat Sastro, SH dan Hajah Mutiara Sitepu), menerima ucapan selamat dari para keluarga dan tamu yang hadir, dan berkesempatan berfoto bersama.

Aura agungnya adat Jawa serta kebahagian mempelai dan kedua keluarga, jelas mengambang di hari itu. Selebihnya, acara resepsi pernikahan dilanjutkan pada hari Minggu di gedung Jogja Expo Center.

Teks: FA Herru; Foto: Albert

Sunday, August 18, 2013

Reuni SMPN 8 Yogyakarta

Bertempat di halaman SMPN 8 Yogyakarta, 10 Agustus lalu berlangsung acara reuni. Dengan suasana sangat meriah, reuni ini dihadiri ratusan alumni. Suasana halaman SMPN 8 Yogyakarta pun tampak penuh alumni yang saling melepas rindu dan silaturahmi kepada para teman sewaktu SMP dulu.

Kemeriahan reuni diawali dengan penampilan grup perkusi. Kemudian dengan suguhan lawakan ciri khas angkringan oleh mas Jhonet yang menambah semarak acara reuni. Ketua panitia sekaligus ketua alumni angkatan 1983, Harpiyanto, memaparkan bahwa tujuan diadakan reuni, selain untuk syawalan adalah untuk kangen-kangenan setelah puluhan tahun tak bertemu.

Selama 30 tahun mereka tak bertemu. Reuni angkatan 1983 ini pun menjadi ajang pertemuan pertama kali. Dalam kesempatan ini, diadakan penggalangan dana yang nantinya diberikan kepada keluarga alumni kurang mampu dalam bentuk beasiswa. Selain itu, juga kegiatan sosial dengan memberi santunan ke panti asuhan yatim piyatu. Bagi mereka, reuni ini diharapkan bukan yang pertama dan terakhir. Namun akan berkelanjutan untuk menunjang program komite sekolah.

Perwakilan Kepala Sekolah dalam sambutannya, memaparkan bahwa adanya reuni tentu sangat membantu dalam menunjang program pembangunan sekolah. Misalnya, berupa ruang perpustakaan, papan nama, maupun bantuan berupa buku perpustakaan, dan beasiswa bagi murid yang tidak mampu.

“Banyak program sekolah yang semula belum terlaksana, namun dengan terselenggara reuni dari berbagai angkatan, sangat berarti bagi kelangsungan program komite sekolah,” ujarnya.

Teks: Bung Tarjo

Thursday, August 15, 2013

Hotel Dafam Cilacap Genap Berusia 2 Tahun

Tanggal 12 Agustus 2013 lalu, Hotel Dafam Cilacap genap 2 tahun beroperasi. Hotel berbintang tiga di jantung kota Cilacap ini menggelar berbagai acara dalam merayakannya. Diawali dengan acara sederhana, yakni syukuran potong tumpeng oleh Antonius Recky Yudianto selaku General Manager Hotel Dafam Cilacap, yang kemudian diserahkan secara simbolis kepada Pimpinan Pondok dan Panti Asuhan Tarbiyatul Aulaad selaku undangan, dan sesepuh sekitar lokasi hotel.

Konsep acara tumpengan memang dibuat secara sederhana, dengan mengundang anak yatim serta santap makan bersama usai acara yang dihadiri oleh seluruh staf dan karyawan Hotel Dafam Cilacap yang diakhiri dengan pemberian santunan kepada perwakilan anak yatim sebagai bentuk rasa untuk saling berbagi. Rangkaian ulang tahun ke-2 Hotel Dafam Cilacap juga menggelar kegiatan donor darah yang mengambil tema “Be a Hero” sebagai bentuk program CSR rutin dari Hotel Dafam Cilacap yang menjadi bentuk kepeduliaan terhadap lingkungan sekitar.

Teks: Agus Yuniarso

Tuesday, August 6, 2013

Drama Reading Tafakur Anjing

Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib pada Kamis, 1 Agustus 2013 lalu tampak lebih hidup. Rupanya malam itu, sejumlah aktor senior Teater Perdikan Yogyakarta mementaskan fragmen berlakon Tafakur Anjing karya sang budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang lebih populer disapa Cak Nun itu. Pementasan ini merupakan sebuah drama reading atau drama dengan membaca naskah yang disutradarai oleh Indra Tranggono dan Toto Rahardjo.

Menurut sang sutradara Toto Rahardjo, pementasan dalam bentuk drama reading ini juga menandai selamatan Tafakur Anjing yang rencananya akan dipentaskan di beberapa kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Bali pada bulan September hingga November nanti. Oleh karenanya, dalam drama reading ini hanya ditampilkan beberapa fragmen yang cukup mewakili keseluruhan cerita dari pementasan Tafakur Anjing tersebut.

Keunikan dari pementasan ini adalah Teater Perdikan sengaja memasang para aktor seniornya antara lain Joko Kamto, Novi Budianto, Tertib Suratmo, Bambang Susiawan dan Labibah Zein. Kematangan mereka dalam dunia teater tentu akan memberikan sentuhan yang berbeda dalam pementasan kali ini. Sebagai para aktor dan aktris senior, kemampuan mereka dalam memerankan sebuah lakon pasti sudah tidak diragukan lagi. Kematangan dalam berakting inilah yang akan membuat pementasan Tafakur Anjing ini semakin berkualitas. Sedangkan Emha sendiri mengatakan bahwa dirinya sengaja memilih drama kamar yang sarat renungan.

“Saya menyebutnya sebagai lakon batin yang mengajak penonton untuk berefleksi di tengah berbagai pendangkalan nilai-nilai kehidupan saat ini. Khusus untuk pementasan Tafakur Anjing, kami membatasi penonton sekitar 150 orang karena ruang pertunjukan yang kami pilih pun relative kecil, karena drama ini membutuhkan suasana intim dan komunikasi yang intens,” paparnya dalam dialog dan diskusi setelah drama reading usai digelar.

Sementara itu Indra Tranggono mengatakan bahwa drama Emha adalah drama ide yang sangat cerdas dan mengandung nilai-nilai pemikiran yang sangat dalam. Menurut Indra, kekuatan naskah Emha di antaranya terletak pada kata, keindahan kalimat dan kecerdasan logika. Bagi para actor, naskah Emha juga menuntut permainan yang prima, baik secara teknis maupun olah tafsir. Emha banyak memainkan kaliamt-kalimat konotatif, puitis dan bahasa bersayap yang bisa berisi renungan, satire, parodi dan ironi.

Sementara itu, EH. Kertanegara, koordinator Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa Rumah Budaya ini menciptakan ruang interaksi kreatif dan penghadiran karya serta gagasan. Rumah Budaya ini juga terbuka bagi siapa saja untuk berekspresi dabn berdialog tentang seni dan budaya.

Teks: Della Yuanita; Foto : Albert

Monday, August 5, 2013

IWAPI Berbagi Kasih

Dalam menyambut bulan suci Ramadhan DPP Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia menyelenggarakan kegiatan acara sosial bertajuk “Berbagi Kasih IWAPI Ramadhan 2013” yang digelar pada 31 Juli 2013 yang lalu. Kegiatan ini genap digelar untuk yang ke – 8 kalinya oleh IWAPI dan menjadi acara rutin tahunan. IWAPI pun patut berbangga hati karena Menteri Agama Drs. Suryadharma Ali M. Si., berkenan untuk membuka acara tersebut.

Dalam acara berbagi kasih yang digelar di Gedung Serbaguna Kementerian Agama RI tersebut, IWAPI juga menandatangani MOU yang men-sahkan kerjasama Sinergi Pemberdayaan Ekonomi Produktif mitra binaan UMKM DKI Jakarta, Jawa Barat dan Sulawesi Tengah bersama Permata Bank Syariah, yang juga ikut mensponsori terlaksananya acara “Berbagi Kasih IWAPI Ramadhan 2013”.

Teks & Foto: Herlan

Sunday, August 4, 2013

Ragam Batik di Gelar Batik Nusantara 2013

Yayasan Batik Indonesia kembali mengadakan pameran yang melibatkan pelaku industri batik. Pameran yang sudah delapan kali di adakan dengan nama “Gelar Batik Nusantara 2013”. Acara yang berlangsung dari tanggal 17 – 21 Juli 2013 dan bertempat di Jakarta Convention Center di buka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di dampingi Menteri Perindustrian MS Hidayat, Gubenur DKI Jakarta Joko Widodo, serta ketua pengurus Yayasan Batik Indonesia Yultin Ginanjar Kartasasmita.

GBN 2013 kali ini bertemakan Innoquality menampilkan inovasi terbaru dan berkualitas di bidang perbatikan seperti ditampilkannya ikon-ikon batik dalam tata saji dan interior dari Istana Kepresidenan, tata saji dari Istana Mangkunegaran Solo, koleksi berbagai kain dan motif batik dari Pura Pakualaman Yogyakarta, batik nusantara, Batik Jawa, Batik Tuban, Batik Insana, grand batik Joop Ave dan 142 UKM pengrajin batik tulis, batik cap maupun campuran keduanya dari seluruh Indonesia.

Selain menampilkan dan memamerkan koleksi batik, pada GBN 2013 kali ini Yayasan Batik Nusantara juga memberikan penghargaan Kriya Pusaka kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Ibu Ani Yudoyono dan Ir. Ardiyanto Pranata, M.P yang dinilai telah berjasa dalam pengembangan batik Indonesia, selain itu juga penghargaan diberikan kepada Hj. Ray Suparmi Martawi, Hj. Musyafa’ah, Enung NH. Kamaludin, Painem, dan Hj. Lailani Lathifah atas prestasi dan pengabdian mereka selama lebih dari 40 tahun menekuni batik. Piala Batik Muda berbakat di berikan kepada B.R.Ay. Atika Purnomowati dan H. Komaruddin Kudya, S.IP, M.Ds.

Teks & Foto : BK

Friday, August 2, 2013

Happy Moms Berbagi

Berbagi kebahagiaan dengan cara yang berbeda dilakukan oleh komunitas sosialita yang tergabung dalam arisan Happy Moms. Pada hari Sabtu tanggal 28 Juli 2013 lalu, Happy Moms menggelar acara berbuka puasa bersama dan penyerahan bingkisan bersama para warga binaan di Lapas Wirogunan. Ini merupakan pertama kalinya komunitas ini menggelar acara tersebut di Lapas Wirogunan. Keharuan tampak menyelimuti acara tersebut. Koordinator Happy Moms, Ena Vadaq mengatakan bahwa ini merupakan salah satu kepedulian dari komunitasnya untuk membagi kebahagiaan dengan cara yang berbeda.

Ena mengatakan bahwa para warga binaan juga merupakan sosok-sosok yang harus diperhatikan. Mereka membutuhkan motivasi untuk bangkit dalam mengahdapi segala persoalan yang menimpanya. Di Lapas Wirogunan para warga binaan juga banyak mendapatkan ketrampilan untuk meningkatkan kreativitas mereka. Sehingga begitu keluar dari lapas, mereka mampu berdikari dengan ketrampilan yang dimilikinya.

Thursday, August 1, 2013

Rumah Batik Danar Hadi Tampil Baru

Danar Hadi mempunyai ikatan yang kuat dengan Kota Solo. Solo menjadi cikal bakal, di mana brand batik ini dilahirkan dan berkembang hingga kesohor seperti yang kita kenal saat ini. Belum lama ini terhembus kabar, Danar Hadi meluncurkan kembali satu gerainya yang berada di Jl. Dr Radjiman 164, Solo. Rumah Batik Danar Hadi, pada 20 Juli lalu di-reopening setelah dilakukan perombakan total tampilannya.

Kini, gerai yang dibangun pada 1973 ini tampil lebih elegan, menghadirkan nuansa interior baru dengan sentuhan modern namun tetap sarat tradisi. Rumah Batik Danar Hadi Radjiman merupakan rumah batik pertama yang didirikan dan menyatu dengan kediaman penciptanya. Rumah batik ini menyuguhkan portfolio produk dengan kualitas terdepan dan eksklusif.

“Rumah Batik Danar Hadi yang pertama ini memiliki beragam cerita yang sangat berarti dalam sejarah perkembangan Danar Hadi. Rumah batik ini sangat istimewa karena menjadi cikal bakal terciptanya Danar Hadi dan hingga saat ini menyatu dengan kediaman kedua penciptanya, H. Santosa Doellah dan istrinya, Hj. Danarsih Santosa,” ujar Diana Santosa, Managing Director Batik Danar Hadi

Desainer interior Agam Riyadi dipercaya memberikan sentuhan baru dalam setiap sudut gerai batik yang bersejarah ini. Tampil baru dengan nuansa modern etnik, elemen seperti lantai parket dan marmer menghiasi tiap ruangan. Namun, ciri khas ukiran kayu dan gawangan masih dipertahankan dan menjadi elemen penting karena merupakan ciri khas Batik Danar Hadi yang mengapresiasi nilai tradisi. Gerai ini juga telah dilengkapi lounge untuk memberi kesan santai dan tentulah menambah kenyamanan pengunjung.

Dalam acara peluncuran kembali Rumah Batik Danar Hadi, hadir Walikota Surakarta FX. Hadi Rudyatmo yang membuka resmi gerai batik ini. Hadir pula Wakil Walikota Surakarta Achmad Purnomo, dan tentu saja jajaran petinggi Batik Danar Hadi seperti H. Santosa Doellah, Hj. Danarsih Santosa, Diana Kusuma Dewati Santosa, Dewanto Kusuma Wibowo Santosa, dan Dian Kusuma Hadi Santosa.

Setelah acara peresmian, diadakan fashion show yang menampilkan koleksi-koleksi eksklusif dan berkualitas dari Batik Danar Hadi. Dalam fashion show tersebut, aktor Atalarik Syah dan aktris Wulan Guritno turut serta menjadi modelnya. Mereka menampilkan busana batik untuk sehari-hari, batik untuk pesta, maupun batik yang dipadukan dengan hijab.

Teks: Veronika Sekar; Foto: Budi Prast
Copyright © Restorium - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.