468x60bannerad

Tuesday, August 6, 2013

Drama Reading Tafakur Anjing

Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib pada Kamis, 1 Agustus 2013 lalu tampak lebih hidup. Rupanya malam itu, sejumlah aktor senior Teater Perdikan Yogyakarta mementaskan fragmen berlakon Tafakur Anjing karya sang budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang lebih populer disapa Cak Nun itu. Pementasan ini merupakan sebuah drama reading atau drama dengan membaca naskah yang disutradarai oleh Indra Tranggono dan Toto Rahardjo.

Menurut sang sutradara Toto Rahardjo, pementasan dalam bentuk drama reading ini juga menandai selamatan Tafakur Anjing yang rencananya akan dipentaskan di beberapa kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Bali pada bulan September hingga November nanti. Oleh karenanya, dalam drama reading ini hanya ditampilkan beberapa fragmen yang cukup mewakili keseluruhan cerita dari pementasan Tafakur Anjing tersebut.

Keunikan dari pementasan ini adalah Teater Perdikan sengaja memasang para aktor seniornya antara lain Joko Kamto, Novi Budianto, Tertib Suratmo, Bambang Susiawan dan Labibah Zein. Kematangan mereka dalam dunia teater tentu akan memberikan sentuhan yang berbeda dalam pementasan kali ini. Sebagai para aktor dan aktris senior, kemampuan mereka dalam memerankan sebuah lakon pasti sudah tidak diragukan lagi. Kematangan dalam berakting inilah yang akan membuat pementasan Tafakur Anjing ini semakin berkualitas. Sedangkan Emha sendiri mengatakan bahwa dirinya sengaja memilih drama kamar yang sarat renungan.

“Saya menyebutnya sebagai lakon batin yang mengajak penonton untuk berefleksi di tengah berbagai pendangkalan nilai-nilai kehidupan saat ini. Khusus untuk pementasan Tafakur Anjing, kami membatasi penonton sekitar 150 orang karena ruang pertunjukan yang kami pilih pun relative kecil, karena drama ini membutuhkan suasana intim dan komunikasi yang intens,” paparnya dalam dialog dan diskusi setelah drama reading usai digelar.

Sementara itu Indra Tranggono mengatakan bahwa drama Emha adalah drama ide yang sangat cerdas dan mengandung nilai-nilai pemikiran yang sangat dalam. Menurut Indra, kekuatan naskah Emha di antaranya terletak pada kata, keindahan kalimat dan kecerdasan logika. Bagi para actor, naskah Emha juga menuntut permainan yang prima, baik secara teknis maupun olah tafsir. Emha banyak memainkan kaliamt-kalimat konotatif, puitis dan bahasa bersayap yang bisa berisi renungan, satire, parodi dan ironi.

Sementara itu, EH. Kertanegara, koordinator Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa Rumah Budaya ini menciptakan ruang interaksi kreatif dan penghadiran karya serta gagasan. Rumah Budaya ini juga terbuka bagi siapa saja untuk berekspresi dabn berdialog tentang seni dan budaya.

Teks: Della Yuanita; Foto : Albert
Copyright © Restorium - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.