468x60bannerad

Thursday, August 29, 2013

Purnama Hamengku Boko, Dari Boko Merajut Nusantara

Inilah saat pertama kali “Purnama Hamengku Boko” dilatarkan. Sambung menyambung rupa-rupa seni dan budaya dilakonkan di pelataran Candi Ratu Boko di bawah terang sinar bulan purnama. Purnama Hamengku Boko, merupakan perhelatan seni budaya yang tak lain ditujukan untuk merajut Nusantara melalui seni dan budaya yang ada.

Memang tak bisa diremehkan, sekarang ini budaya-budaya lokal di Nusantara masih kalah populer ketimbang budaya global. Seni-budaya lokal secara substansial malahan seperti makin lemah atau tidak mengalami kemajuan yang berarti. Karena itu, yang dibutuhkan adalah membuncahnya kesadaran setiap individu masyarakat untuk mengingat dan menggali lagi warisan seni-budaya bangsa. Sebab sejatinya kita mengerti, bahwasannya warisan seni dan budaya merupakan energi, pusaka bangsa, bagian dari peradaban besar Nusantara.

Di tanah Yogyakarta, dahulu kala berdiri Kraton Ratu Boko yang kini tak lebih dari sebutan candi. Kraton Ratu Boko konon merupakan pusat peradaban, pusat spiritual religi, pusat ilmu teknologi, juga pusat kearifan-kearifan luhur masyarakat lampau. Pun demikian keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang kita kenal sebagai sumber kearifan budaya Jawa, yang pada akhirnya menjadikan Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya, salah satu kawasan besar pusaka budaya Indonesia.

Berlatar belakang juga pada adanya dua kraton tersebut, gelaran seni-budaya Purnama Hamengku Boko kemudian dikreasikan. Secara harfiah diartikan sebagai cahaya bulan yang menyangga Boko. Secara filosofi, Hamengku mewakili Keraton Yogyakarta. Boko ditujukan untuk situs Kraton Ratu Boko. Sedangakan Purnama mewakili cahaya yang memancar dari kesatuan dua keraton tersebut.

“Dan esensi dari kegiatan ini sebenarnya adalah sebuah usaha memunculkan kembali atau mengembalikan kejayaan-kejayaan yang ada di tanah ini. Dasarnya, adalah harapan untuk kembali kepada kearifan lokal. Kita sadar secara kolektif bahwa kita punya sejarah dan budaya yang luar biasa. Dan dengan ini, kita ingin pula mengajak atau memunculkan kesadaran kolektif masyarakat, terutama kalangan teman-teman muda bahwa kita perlu menggalinya lagi,” ungkap Detik Wicaksono, koordinator umum pergelaran seni-budaya ini.

Sabda pancering nagari pun jadi satu tagline, ungkapan yang adalah tujuan besar diadakannya helatan ini. Yaitu masa kejayaan sebuah peradaban yang dulu pernah ada di negeri Nusantara. Satu ungkapan yang pada dasarnya sama dengan yang pernah diucapkan Bung Karno mengenai mercu suar dunia. Memang, Nusantara pernah menjadi pemimpin peradaban. Itu terbukti dari adanya kejayaan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya atau Majapahit. Setelah Nusantara tegak berdiri menjadi Indonesia pun, pastinya tetap diharapkan demikian.

Inilah mengapa, Purnama Hamengku Boko kemudian dipersembahkan lalu oleh Laksita Mardawa dan Tim Saptagama. Laksita Mardawa adalah komunitas pemerhati seni dan budaya yang berkonsentrasi dalam upaya pelestaraian. Sedangkan Saptagama, yang berarti penjaga dan pelestari budaya, adalah tim khusus yang dibentuk untuk menyelenggarakan helatan ini.

Melalui kesenian-kesenian dan budaya yang ada, Purnama Hamengku Boko ingin merajut Nusantara. Di helatan pertama pada 22 Agustus lalu ini, beberapa bentuk kesenian ditampilkan melalui serangkaian acara. Rangkaian pertama adalah Boko Photo Race, yaitu ajang sumbang foto dari para seniman fotografi untuk memberikan karya terbaik dalam membidik situs Candi Ratu Boko. Sebelumnya pun diadakan coaching clinic fotografi.

Kemudian yang kedua, Beksan Nuswantoro. Adalah puncak acara yang menyuguhkan tari-tarian Nusantara yang kali pertama ini ditampilkan Tari Srimpi Pandhelori. Tarian yang diciptakan dan dikembangkan oleh Sultan Hamengkubuwono VI dan VII ini membawakan cerita petikan dari “Menak”, sebuah perang tanding Dewi Sirtu Pelaeli dan Dewi Sudarawerti yang membawa pistol dan cundrik dalam berperang. Ditampilkan pula tari Golek Ayun-Ayun yang berasal dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Tari ini menggambarkan gadis-gadis remaja yang sedang bersolek. Biasanya, tarian ini ditampilkan dalam upacara penyambutan tamu kehormatan kraton dan upacara pernikahan.

Selain itu, kegiatan ini juga menyuguhkan kesenian gejruk lesung yang menampilkan permaian tradisional yang pada zaman dulu populer dimainkan anak-anak. Seperti jamuran, dingklik oglak-aglik, jungklak-jungklik yang menggunkan alat dari bambu, cublak-cublak suweng, gotri legendri, sluku-sluku batok, juga suk-suk pari ambruk.

Tak kalah menarik, adalah penampilan grup seni beladiri tradisional pencak silat. Sembilan jurus dimainkan dengan apik oleh para senimannya. Lantas sebagai puncak acara, dusuguhkanlah Laksita Teja Kirana atau pesta cahaya. Kali ini, pesta cahaya dilakukan dengan menerbangkan ratusan lampion yang menjadi simbol harapan akan tercapainya maksud dan tujuan diadakannya pergelaran seni-budaya ini.

Tari-tarian tradisional, permainan anak-anak tradisional, serta pesta cahaya ini dimainkan di pelataran situs Candi Ratu Boko yang bertepatan dengan kemunculan bulan purnama. Bukan tanpa sengaja ini dilakukan; Purnama Hamengku Boko, yang akan diagendakan sebualan sekali, selalu akan diadakan di saat kemunculan bulan purnama. Cahaya terang purnama yang menyinari bumi Boko, dijadikan simbol untuk mengembalikan sabda pancering nagari. Menurut Detik Wicaksono, ke depan Purnama Hamengku Boko akan juga menampilkan beragam kesenian dan budaya tradisional dari seluruh Nusantara. Tari-tarian tradisional, pun diagendakan menjadi isian tetap helatan ini, sebagai simbol tujuan merajut Nusantara.

Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast
Copyright © Restorium - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.