468x60bannerad

Friday, March 7, 2014

Launching Buku Bung Karno: Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia

Presiden pertama RI, Soekarno, dikenal sebagai pengagum karya-karya seni dan memiliki koleksi seni rupa sekitar 2.000 karya. Darah seni yang diwarisi dari ibunya yang berasal dari Bali, membuat sosok Bung Karno sangat dekat dengan berbagai bentuk kesenian. Kecintaan Bung Karno pada karya seni ini membawanya dekat dengan banyak seniman, terutama pelukis. Sosok Soekarno sebagai "seniman" tersebut tergambar dalam buku "Bung Karno, Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia", karya Mike Susanto, pengajar di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Peluncuran dan diskusi buku itu diselenggarakan Kamis, 6 Maret 2014 di Ruang Seminar Lantai 5, Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana UGM, Jl Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, tempat Mike Susanto menyelesaikan tesisnya. Nasasumber diskusi adalah Dr. Lono Lastoro Simatupang, antropolog; dan JJ Rizal, sejarawan, dengan moderator Dr. Sri Margana, sejarawan, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Koleksi lukisan Bung Karno mengisi istana-istana kepresidenan.Setiap acara kenegaraan, Bung Karno selalu menyertakan karya seni sebagai pelengkap. “Karena itu, seperti juga dikatakan Mike dalam bukunya, Bung Karno selalu menghadirkan koleksi karya seninya, dalam hal ini seni lukis pada peristiwa-peristiwa kenegaraan, sehingga kita bisa mengerti bahwa sebagai kolektor Bung Karno bukan sekadar mengoleksi, melainkan memberi makna baru dalam satu peristiwa penting,” kata Lono Lastoro Simatupang.

Mike Susanto menjelaskan, dari 2.000 koleksi lukisan Bung Karno, hanya 500 lukisan yang ada di dalam buku koleksi yang sudah diterbitkan dan 10 persennya merupakan lukisan karya Basuki Abdullah. “Bung Karno memang senang dengan lukisan karya Basuki Abdullah, apalagi karya yang melukis model cantik hasilnya selalu lebih muda usianya,” kata Mike Susanto.
Copyright © Restorium - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.