Prosesi diawali KGPAA Paku Alam IX miyos dari Dalem Ageng menuju Bangsal Sewatama. Kemudian doa bersama tingalan dalem. Puncak peringatan tingalan dalem itu ada dua dalam kegiatan tersebut, pertama acara adat. Paku Alam IX duduk di kursi menghadap ke selatan. Hajat dalem diletakkan di depan Paku Alam IX dan semua kerabat duduk di bawah menghadap ke utara. Hajat dalem tidak hanya berupa apem. Tapi juga tumpeng, ingkung, jenang dan lain-lain.
Sebenarnya, selain prosesi di Bangsal Sewatama, salah satu tradisi ketika tingalan dalem yang tidak kalah penting ialah tradisi ngapem. Tradisi itu dilaksanakan setiap 7 Mulud, sesuai tanggal lahir Paku Alam IX menurut kalender Jawa. Ngapem itu sendiri sudah berlangsung sejak dulu dan tetap lestari hingga sekarang. Maknanya, kalau ulang tahun, raja-raja harus selalu memberi sedekah dalam bentuk apem untuk dibagikan kepada masyarakat. Jumlah apem yang dibuat juga tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai jumlah seribu lebih.
Sebagian apem ada yang dibuat apem salira. Apem ditata di atas meja dibentuk tangan, tubuh dan kaki dengan ukuran sesuai tinggi badan KGPAA Paku Alam IX. Setelah didoakan apem salira kemudian dibongkar dan ditata dibaki untuk dibagikan kepada tamu serta sebagai hajat dalem yang akan diserahkan di Masjid Pakualaman.
Selanjutnya, abdi dalem suronggomo memimpin pembacaan doa. Setelah itu, sebagian hajat dalem dibawa keluar menuju Masjid Pakualaman dan sebagian lagi dibawa ke dalam untuk para tamu dan sentana. Kemudian, setelah usai acara doa, prosesi dilanjutkan pemberian kalenggahan. Pembawa acara kemudian membacakan nama-nama yang mendapat kalenggahan. Di antaranya Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan dan Menpora, KRMT Roy Suryo Notodiprojo.
Setelah acara pemberian gelar selesai, KGPAA Paku Alam IX jengkar kembali masuk ke Dalem Ageng. Orang-orang yang mendapat gelar, yang semula duduk bersila di bawah (lantai), berpindah duduk di kursi. Beberapa saat kemudian, KGPAA Paku Alam IX miyos lagi ke Bangsal Sewatama kali ini untuk acara pahargyan. Gending-gending Jawa mengalun yang dimainkan oleh abdi dalem karawitan sejak awal acara. Beberapa tari juga disuguhkan. Menurut Mas Riya Sestradirja, para penari tersebut belajar menarinya di bangsal Sewatama. “Tarian yang dipersembahkan adalah tarian asli dari Pura Pakualaman,” katanya.
Sementara prajurit Pura Pakualaman bregada Plangkir dan Lombok Abang berbaris tegap dan rapi lengkap dengan senjata dan alat musik di depan bangsal. Memberikan penghormatan saat KGPAA Paku Alam IX miyos dan jengkar masuk kembali ke Dalem Ageng. Setelah upacara selesai, KGPAA Paku Alam IX memberi hormat kepada seluruh hadirin, untuk kemudian kembali masuk Dalem Ageng.
Terkait pemberian gelar kepada Gita Wirjawan, menurut Putra Mahkota Paku Alaman, putra dari Paku Alam IX Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (KBPH) Suryodilogo mengatakan, gelar yang diberikan kepada Gita Wirjawan merupakan paring dalem (pemberian dari KGPAA Paku Alam IX) karena kiprahnya di masyarakat. Pemberian gelar tersebut merupakan usulan dari Hudyana (Trah Pakualaman) yang ada di Jakarta.
“Setelah diproses oleh tim Pakualaman yang melakukan penilaian sekitar tiga bulan dan disetujui oleh Paku Alam IX, akhirnya Gita wirjawan diberi gelar bupati sepuh yang diberikan oleh Paku Alam IX. Pemberian Gelar dari Pakualaman itu memerlukan proses seleksi yang ketat seperti halnya di Kraton Yogyakarta,” katanya.
Bersamaan dengan Gita, Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo juga mendapat gelar 'bupati sepuh'. Tetapi Roy merupakan kerabat Pakualaman. Dia naik pangkat dari bupati anom menjadi bupati sepuh dengan nama Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Suryo Notodiprojo. Sedangkan Gita Wirjawan mendapat gelar bupati sepuh sehingga namanya menjadi Kanjeng Raden Tumenggung (KRT)Djojonegoro.
Menanggapi pemberian gelar'bupati sepuh' dari KGPAA Paku Alam IX kepada dirinya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku bangga. "Alhamdulillah saya sangat berterima kasih. Ini pengakuan yang dasyat dari Sri Paduka (Paku Alam IX). Dengan pemberian gelar tersebut merupakan pengakuan yang harus dipertanggungjawabkan. Saya harus melakukan yang terbaik untuk Yogyakarta dan tanah air. Saya akan mendepankan kepentingan rakyat supaya lebih sejahtera lahir dan batin ,” kata Gita Wirjawan pada wartawan di Bangsal Puro Pakualaman.
Teks: Wahyu Indro S; Foto: Albert
