Seperti yang terekam di bulan lalu, tak lama selepas Sekaten, Kota Yogyakarta segera dibalut lagi acara budaya. Acara yang mendapat perhatian dan mampu menghimpun masyarakat dalam satu waktu dan tempat itu adalah Festival Bregodo Rakyat. Acara budaya yang berlangsung Minggu, 19 Januari lalu, ini merupakan bentuk rasa cinta masyarakat Yogyakarta terhadap budaya, sekaligus upaya nguri-uri peradaban Mataram.
Festival Bregodo Rakyat adalah festival budaya rakyat yang berkaca pada keberadaan bregodo prajurit Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Pada zamannya, bregodo prajurit adalah kesatuan prajurit militer keraton. Pada zaman sekarang, keberadaannya adalah sebagai aset budaya yang selalu mengiringi upacara dan hajatan resmi Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman.
Festival Bregodo Rakyat diikuti oleh 42 kelompok masyarakat dan kelompok seni budaya. Dalam kelompoknya, mereka berbaris, berkostum aneka warna dan desain selayaknya prajurit keraton. Mereka juga membawa senapan, tombak, keris, pedang atau juga panah. Masing-masing kelompok berjalan beriringan, pawai dari Jalan Abubakar Ali, melitasi kawasan Malioboro, sampai akhir di komplek Benteng Vredeburg, sembari melakukan gerakan-gerakan atraktif berkoreografi dibarengi musik pengiringnya masing-masing. Tak hanya prajurit rakyat, anggota TNI Yonif 403 pun ikut memeriahkan Festival Bregodo.
Kegiatan budaya ini baru digelar pertama kali. Selain untuk melestarikan warisan budaya Mataram, kegiatan yang diselenggarakan oleh Manajemen XT Square, bekerjasama dengan Kampayo XT, De’Mata, dan juga Kabare Magazine, ini sekaligus untuk memperingati Jogja Kota Republik yang jatuh setiap tanggal 4 Januari, di mana pada tahun 1946 Yogyakarta menjadi ibukota Indonesia menggantikan Jakarta yang diduduki Belanda. Ini pun dimaksudkan sebagai upaya mengisi aksi budaya Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta menjadi wadah pembinaan dan apresiasi pada para bregodo rakyat yang dimiliki oleh sejumlah daerah di Yogyakarta.
Festival Bregodo Rakyat memperebutkan tropi dan dana pembinaan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk juara I, Sri Paduka Pakualam IX untuk juara II, dan Danrem 072 Pamungkas untuk juara III. Sedangkan dari Walikota Yogyakarta untuk bregodo rakyat yang juara Harapan I, dari Dinas Pariwisata DIY untuk juara Harapan II, dan juara Favorit mendapatkannya dari H Achmad Kushendrarto, SH.
Tampak hadir dalam acara ini GKR Hemas, Danrem 072 Pamungkas Brigjend TNI Muhammad Sabrar Fadilah, Walikota Yogyakarta H Haryadi Suyuti, dan tamu undangan lainnya. Sementara hadir sebagai dewan juri GBPH Yudhaningrat, Pengageng Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo, dan Manajemen XT Square Moh Verga Prabowo Agus beserta para penonton.
Secara berurutan, juara I diraih oleh Bregodo Kyai Tanjung Anom, Wonokromo, Pleret, Bantul. Juara II dan seterusnya diraih oleh Bregodo Pasembaja, Jetis; Bregodo Ambarketawang, Gamping, Sleman; Bregodo Poeroebojo, Sendangtirto, Berbah, Sleman; Bregodo Jogobumi Adikarto, Panjatan, Kulonprogo; dan Bregodo Kewirobroto, Mergangsan.
Teks: FA Herru; Foto: Budi Prast
