Dalam sejarahnya, musik jazz memang lekat dengan kata perubahan. Ia menjadi media perlawanan, penampung kegelisahan, dan penawar luka bagi masyarakat kulit hitam di Amerika. Di Indonesia, selama lima tahun terakhir, perkembangan musik jazz boleh dikatakan cukup pesat. Indikatornya jelas. Makin bertambah musisi yang mengeluarkan album, konser khusus musik jazz, dan penonton yang datang ke pertunjukan berlabel musik jazz. Situasi ini sebenarnya anomali bila diperbandingkan dengan industri musik Indonesia saat ini. Di tengah industri yang nyaris kolaps melawan pembajakan, musik jazz justru berkembang.
Sama seperti sejarah kelahiran musik jazz yang berawal dari perlawanan terhadap ketertindasan, setiap tahun Ngayogjazz selalu tampil di tengah-tengah masyarakat kaum bawah atau kalangan proletar. Di festival ini, para musisi pemula hingga senior bersatu dan bermain bersama tanpa ada perbedaan di dalam panggung musik sederhana dengan nama Panggung Tradisional, Panggung Wawuh (berdamai), Panggung Guyub (rukun), Panggung Sayuk Rukun (suasana penuh kerukunan), dan Panggung Srawung (bergaul). Penamaan kelima panggung ini selaras dengan tagline Ngayogjazz 2013, ”Rukun Agawe Ngejazz”, yang digelar di kampung Sidoakur yang artinya jadi rukun (akur).
Seperti tahun lalu, konser Ngayogjazz 2013 juga berlangsung di tengah guyuran hujan. Ngayogjazz benar-benar menjadi medan pembelajaran bagi pemusik jazz. Mereka yang biasa dimanjakan dengan fasilitas konser musik mewah, harus bermain di tengah derasnya hujan, bahkan dengan peralatan seadanya.
Tetapi, meski digelar di pelosok kampung, Ngayogjazz 2013 terbukti menjadi festival musik jazz kolosal dengan jumlah artis mencapai 260 orang dengan 37 grup band. Jumlah ini jauh lebih banyak daripada Ngayogjazz 2012 yang didukung 180-an artis dengan 27 grup band saja.
Sebut saja sejumlah artis dan grup band luar negeri tampil dalam Ngayogjazz 2013, seperti Baraka, band berformat trio asal Jepang; pemain trumpet Eropa Erik Truffaz; Brink Man Ship yang dikomandani Jan Galega Bronnimann asal Swiss; serta Jerry Pellegrino, pianis asal Amerika Serikat.
Sedangkan artis dalam negeri yang tampil tak kalah memukau antara lain Idang Rasjidi, Chaseiro, Monita Tahalea, Shadu Band, Everyday Band, Kirana Big Band, Komunitas Jazz Jogja, Jazz Ngisor Ringin, Oele Pattiselano Trio, Peni Chandrarini, dan Ketzia. Selain itu, tema Ngayogjazz 2013 kali ini, ”Rukun Agawe Ngejazz”, sangat aktual dengan kondisi masyarakat DIY, bahkan Indonesia. Di tengah riuh rendah pemberitaan media yang setiap hari menampilkan aneka ragam kekerasan dan permusuhan, aksi-aksi kekerasan dan radikalisme menghangat di DI Yogyakarta, sebuah pesan perdamaian yang sengaja dimunculkan dari pentas tahunan kali ini.
Sebab, dalam Ngayogjazz terkandung suasana ”hajatan bersama” yang tak eksklusif di mana banyak pihak baik lokal, nasional, maupun internasional ikut terlibat. Dengan cara ini, berbagai aspek tersentuh, mulai dari politik, ekonomi, dan sosial tanpa perlu ada tempelan jargon-jargon ideologis yang sensasional atau bahkan komersial. Intinya, Ngayogjazz menawarkan virus-virus perdamaian yang menyejukkan melalui nada dan suara.
Beragam penyanyi, musisi, alat musik, dan warna suara menyatu dalam sebuah harmoni kerukunan musik di acara Ngayogjazz 2013. “Enam bulan kami berburu memilih lokasi ini untuk penyelenggaraan Ngayogjazz. Sesuai dengan tema utama, di acara ini siapa pun boleh tampil, boleh berjualan, boleh menonton secara gratis, asalkan tetap pada koridor utama, yaitu kerukunan,” kata penanggung jawab Ngayogjazz, Djaduk Ferianto.
Dalam acara tersebut, dari sekian artis yang pernah tampil di ajang Ngayogjazz. Menurutnya, Idang Rasjidi adalah salah satu contoh pemusik jazz senior yang selalu setia menemani dan menyediakan diri untuk tampil. “Pada Ngayogjazz kali ini, kami menobatkan Kang Idang sebagai jazzer proletar. Dari beliaulah lahir musisi-musisi jazz muda berkualitas,” kata Djaduk.
Meski kembali digelar di tengah perkampungan, bukan di mal ataupun hotel berbintang, Ngayogjazz 2013 yang diadakan di Yogyakarta untuk ke 7 kalinya ini adalah sebuah contoh bagaimana musik jazz melebur dengan kelokalan. Bagaimana pertunjukan jazz menjadi lebih dari sekadar hiburan, melainkan gerakan kebudayaan. Dengan cara-cara semacam itulah, musik jazz bisa berusia panjang di Indonesia. Semoga.
Teks: Wahyu Indro S

