Namun demikian, remah-remah sisa kebesaran Pajang saat ini terus digali untuk. Baik berupa benda peninggalan, bekas keratonnya, ataupun juga budaya dan seni dari peradaban Kesultanan Pajang. Para cucu pembesar-pembesar kerajaan, masyarakat serta mereka yang bernaung di dalam Paguyuban Kasultanan Kraton Pajang, kini bersama nguri-uri atau melestarikan apa yang masih tersisa.
Mereka ingin “menghidupkan” kembali Kerajaan Pajang. Mengingat, menumbuhkan dalam hati, kebesaran budaya Kesultanan Pajang. Seperti halnya pada 21 November lalu, di Petilasan Keraton Pajang, yang berada di Desa Makam Haji, Kartasura, Sukoharjo, telah diselenggarakan ruwatan masal, sedekah bumi serta pegelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara ini diselenggarakan bertepatan dengan bulan Suro, bulan baik bagi masyarakat Jawa.
Menurut Raden Dimas Katja, pemerhati budaya yang sekaligus salah satu keturunan Joko Tingkir, acara ini merupakan agenda tahunan masyarakat Pajang. Dan tentu, sebagai upaya melestarikan kebudayaan Jawa, yang juga kebudayaan Kesultanan Pajang. Di samping itu juga untuk menggairahkan kembali budaya tradisi masyarakat Pajang. Ia berharap pula, bahwa agenda-agenda budaya masyarakat Pajang semacam ini, kelak bisa menjadi ciri khas dan daya tarik wisata. Sampai saat ini, telah ada dua agenda budaya yang setiap tahunnya dilaksanakan. Yaitu acara budaya di bulan Suro serta di bulan Maulud.
Pada acara ruwatan masal tesebut, sebanyak 40 orang tua-muda, putra-putri, diruwat. Ruwatan murwakala ini dimaksudkan untuk membesihkan diri dari sukerta atau segala macam kesialan hidup, nasib jelek dan selanjutnya. Keempat puluh orang sukerta tersebut diruwat oleh dalang ruwat Ki Subrata yang sebelumnya mempergelarkan wayang kulit. Mereka dipotong sedikit rambutnya, lalu disirami dengan air yang diambil dari sendang Sumber Panguripan Tirtomulyo yang ada di Petilasan Keraton Pajang. Bersaman dengan itu, juga dilepaskan 40 pasang burung dara dari sangkar. Tentu, semua itu merupakan simbol pelepasan sukerta dan penyucian diri.
Selain itu, dilaksakan juga Sedekah Bumi Pajang. Sedekah bumi merupakan upacara ritual masyarakat Jawa yang sudah turun-temurun, dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang sudah diberikan kepada manusia. Pun demikian, ritual ini dulu juga dilakukan oleh raja Kerajaan Pajang. Sebuah gunungan lanang berisi bermacam hasil palawija digelar dan kemudian diperebutkan masyarakat. Bumi Pajang sampai saat ini memang terkenal dengan hasil bumi palawijanya. Tak ayal, ritual yang satu ini menjadi selalu menjadi atraksi yang menarik.
Tak hanya itu agenda budaya yang dilaksanakan. Di tempat yang sama, digelar pula pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Dewa Ruci” oleh dalang Ki Agus Birowo.
“Demikian, dengan acara ini, kita mencoba untuk melestarikan budaya, juga menemukan kembali ‘ruh’ Kesultanan Pajang. Sebagai orang Jawa yang punya budi pekerti luhur, kita harus mempertahankan budaya. Negara bisa maju kalau masyarakatnya menghargai budayanya sendiri. Kalau kita tidak mau nguri-uri budaya sendiri, pasti pada akhirnya akan hancur,” ujar Raden Dimas Katja, mengakhiri cerita.
Teks: FA Herru; Foto: Albert

