468x60bannerad

Tuesday, October 1, 2013

Festival Danau Toba 2013, “Menghargai Tanah Leluhur”

Danau Toba bukan hanya kebanggaan masyarakat Sumatera Utara tetapi juga seluruh bangsa Indonesia karena sangat dikenal oleh dunia internasional sebagai danau terbesar No. 2 di dunia setelah Danau Victoria, Canada. Panoramanya pun sangat indah, begitu juga budaya dan seni-tradisi masyarakat di sekitarnya.

Inilah satu kekayaan yang sekaligus menjadi asset bangsa. Sebagai upaya pelestariannya, masyarakat dan pemerintah setempat pun mengadakan sebuah “pesta rakyat” untuk melestarikan alam kawasan Danau Toba dan melestarikan kreativitas budaya masyarakat kawasan Danau Toba. Kegiatan ini pun diharapkan menjadi kegiatan yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba.

“Festival Danau Toba” namanya. Kegiatan ini sebenarnya merupakan tradisi turun temurun, dan sudah sejak lama diadakan. Sebelumnya, masing-masing kabupaten di sekitar kawasan Danau Toba menyelenggarakan pesta rakyat sendiri-sendiri. Kemudian digabung menjadi satu dan ditangani langsung oleh Kemenparekraf diganti dengan nama Festival Danau Toba (FDT).

Di tahun ini, Festival Danau Toba dilaksanakan pada 8-14 September lalu. Festival Danau Toba 2013 adalah paradigma baru bagi kegiatan kepariwisataan di kawasan Danau Toba sebagai pengganti Pesta Danau Toba (PDT) yang terakhir dilaksanakan pada Desember 2012. Kabupaten Samosir ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaraannya, dan pelaksanaannya dipusatkan di Pulau Samosir. Acaranya dikemas sangat unik dengan menggabungkan 3 unsur yakni budaya, olahraga dan rekreasi. Tema yang diangkat adalah "Arga Do Bona Ni Pinasa" atau menghargai tanah leluhur.

FDT 2013 dibuka oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa didampingi Wamenparekraf Sapta Nirwandar, Gubernur Sumatera Barat Gatot Pujo Nugroho, Bupati Samosir Mangindar Simbolon dan beberapa pejabat setempat. Pembukaan FDT 2013 dipusatkan di open stage dan ditandai dengan pemukulan Tabuhan Gondang oleh Menko Perekonomian disaksikan ribuan masyarakat dan wisatawan asing. Tari Tor Tor Cawan yang dibawakan oleh ratusan penari turut pula memeriahkan pembukaan acara.

Festival Danau Toba 2013 mengangkat budaya asli Suku Batak. Di antaranya, Karnaval Sigale-Gale yakni boneka kayu yang menggunakan pakaian khas Batak lengkap dengan ulos dan ikat kepala. Boneka ini menari-nari diiringi musik khas Batak. Selanjutnya, permainan Gondang Naposo yakni permainan alat musik tradisional Batak yang mengiringi tari-tarian Tor Tor. Permainan ini untuk kaum muda-mudi yang belum berkeluarga. Biasa diartikan sebagai permainan untuk melihat layak tidaknya untuk dijadikan pasangan hidup.
Kemudian, permainan Marjalengkat yakni permainan mirip egrang masyarakat Jawa dan Marumpasa. Lomba pantun juga dapat disaksikan. Lomba menyanyi lagu-lagu Batak, social drama performance, berbagai kegiatan workshop tentang kain ulos, kuliner khas Batak dan workshop musik juga menjadi bagian dari agenda kegiatan FDT 2013.

Pada FDT 2013, beberapa peserta datang dari beberapa negara. Sebut saja pada World Drum Festival, peserta internasional berasal dari Myanmar, Afrika, Jepang, Dalas-Amerika, Jamal and Bridge Ensemble, dan Poolvalur Sriji. Solu Bolon, Paralayang dan berenang menyusuri Danau Toba menjadi agenda spektakuler dalam Festival Danau Toba 2013. Solu Bolon adalah olahraga perahu dayung dengan menggunakan perahu yang diukir oleh seniman-seniman pahat Gorga (ukir khas Batak).

Kemudian pada eksibisi renang perairan terbuka sebanyak kurang lebih 12 atlet renang nasional putra putri mengawali eksibisi. Diperkirakan selama lebih kurang 10 jam mereka menghabiskan waktu berenang menyusuri Danau Toba, mulai dari dermaga Dumasari di Tuk Tuk menuju Mogang di Kecamatan Nainggolan.

Festival Danau Toba 2013 pastinya akan menginspirasi banyak pihak. Bagaimana pun juga melestarikan kekayaan alam Indonesia menjadi tanggung jawab kita bersama. Menko Perekonomian Hatta Rajasa pun sempat melontarkan sebuah pantun indah, “kalau bukan karena tinta, tak akan kugubah sebuah syair. Kalau bukan karena cinta, mana mungkin saya sampai Samosir.

Teks: Anis RN; Foto: Albert
Copyright © Restorium - Except where otherwise noted, content on this site is licensed under Creative Commons license.