CBI merupakan sebuah program guna meningkatkan industri fashion yang ramah lingkungan. Program CBI ini sudah dijalankan selama 4 tahun, mulai dari tahun 2010 lalu. Tujuan dari program ini adalah untuk mewujudkan produksi batik yang lebih ramah lingkungan, melalui peningkatan efisiensi penggunaan air, energi, dan bahan baku, serta menggiatkan kembali pemanfaatan pewarna alam yang mendukung industri batik di Indonesia. Selain itu, CBI juga berupaya mempromosikan produk ecobatik kepada masyarakat, baik tingkat nasional maupun internasional guna mendorong permintaan serta meningkatkan apresiasi akan batik “hijau” atau batik dari hasil bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.
Selama ini, CBI sudah mendampingi produksi dan pemasaran batik bersih kepada lebih dari 500 IKM Batik di 6 provinsi di Indonesia. Di antaranya Yogyakarta, Jawa Tengah (Klaten, Pekalongan dan Solo), Jawa Barat (Cirebon), Kalimantan Timur (Tarakan), dan Jawa Timur (Sumenep, Madura), Serta Sulawesi Selatan. Terdapat dua misi penting yang merupakan tujuan dasar dari terciptanya Ecobatik ini, yaitu melestarikan lingkungan untuk sekaligus juga melestarikan batik sebagai salah satu warisan budaya bangsa, serta menggunakan bahan-bahan pewarna alam yang mencerminkan kekayaan alam Indonesia.
Acara yang diadakan di Kuntskring Gallery Menteng Jakarta ini adalah tahun keempat yang diselenggarakan CBI. Dalam launching ecobatik ini dihadirkan koleksi ready to wear perdana hasil kolaborasi para perancang ternama Indonesia yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara ini dengan para IKM yang telah mengikuti program CBI.
Pada acara puncak Launching Ecobatik Signature Collection, ditampilkan peragaan busana yang merupakan hasil kolaborasi para desainer dengan para IKM binaan CBI. Pada peragaan tersebut, salah satu desainer, yaitu Musa Widyatmodjo, mencoba menampilkan busana batik untuk pria yang terinspirasi dari keistimewaan salah satu kain batik terbaik yang ada di Indonesia. Itu merupakan batik ramah lingkungan dan dibuat berdasarkan proses pewarnaan alam, seperti dari biji tumbuh-tumbuhan, kulit kayu, dedaunan, ranting dan sebagainya. Yang membuat batik ini menjadi eksklusif dikarenakan proses pembuatannya yang sangat rumit dan memerlukan waktu yang cukup lama.
Teks & Foto: Herlan
